Tentang Agama Majusi

Pendiri agama Persia Kuno atau yang bisa disebut Majusi adalah Zarathustra atau yang lebih dikenal sebagai Zoroaster. Orang Majusi terkadang mempraktekkan ilmu ghaib/mistis sehingga mereka disebut juga sebagai kaum Magus, Magi, yang kemudian berkembang menjadi istilah magic.
Zarathustra lahir kira-kira pada tahun lebih kurang 628 SM di daerah sekitar Iran Utara. Hanya sedikit kisah hidupnya yang bisa ketahui karena tidak banyak informasi sejarah yang membahas tentangnya. Pada usia muda, beliau sudah menyebarkan ajarannya dan berhasil menarik cukup banyak pengikut. Meski pada awalnya cukup banyak pertentangan, namun akhirnya ia berhasil menjalin persahabatan dengan Raja Vishtaspa yang kemudian menjadi pendukung dan pemeluk ajarannya. Konon cerita Zarathustra hidup hingga usia 77 tahun dan diperkirakan meninggal pada tahun 551 SM. 
Kaum Majusi mempunyai kebiasaan menyalakan api besar di kuilnya sehingga mereka sering kali dianggap sebagai kaum pemyembah api. Agama Majusi sendiri menganut sebuah paham teologi yang unik dan rumit, yang bersifat monoteisme dualistis. Menurut Zarathustra, pada prinsipnya hanya ada satu tuhan sejati. Namun, kekuatan yang menggerakkan dunia ini lalu terbagi dalam dua polaritas, yaitu kekuatan terang (Yang disebut Ormudz atau Ahura Mazda) dan kekuatan gelap (Yang disebut Ahriman atau Angra Mainyu). Kedua jenis kekuatan ini terus-menerus bergulat dan bertarung untuk mendapatkan kemenangan serta kontrol atas manusia. Setiap orang bebas memutuskan untuk memihak dan memilih salah satu dari kedua kekuatan itu. Hal ini juga bisa diartikan sebagai pertentangan abadi antara kekuatan kebaikan dan keburukan selama manusia hidup di dunia. Kadang salah satu akan menang dan mengalahkan yang lain, begitu juga sebaliknya. Namun, Zarathustra yakin bahwa dalam jangka panjang kekuatan baiklah yang akan menang, mengalahkan kekuatan jahat atau gelap.
Sepintas ajaran di atas mirip sekali dengan prinsip Yin Yang (Positif negatif) dalam ajaran Taoisme.
Agama Majusi mengalami berbagai perkembangan yang bersifat pasang surut. Dua ratus tahun setelah kematian Zarathustra, agama itu mengalami kemajuan yang lumayan dan berhasil mendapat banyak pengikut. Setelah persia di kuasai oleh Alexsander yang agung, yang menyebarkan pengaruh Hellenisme maka agama ini menjadi redup kembali. Namun, pada masa dinasti Sassanid (+ 226-651 SM) agama ini bahkan ditetapkan sebagai agama resmi Persia. Perkembangan dakwah agama Islam yang meluas dengan cepat, ditambah dengan menaklukkan Arab atas Iran pada Abad ke-7 M membuat agama ini semakin kehilangan pengaruh dan pengikut. Banyak orang Iran yang berbondong-bondong beralih ke agama yang baru ini. Dalam perkembangan berikutnya, penduduk Iran kini mayoritas justru memeluk agama Islam, terutama aliran Syiah. Di Iran sekarang pengikut agama Zarathustra ini mungkin hanya tinggal beberapa ribu orang saja. Tidak banyak pengaruh ajaran Zarathustra yang berkembang diluar negeri Iran.

Semoga bermanfaat :)

No comments:

Post a Comment